Tony Rosyid: Pilgub Jateng, Pertaruhan PDIP dan "Pesantren Sarang"

INDONESIASATU.CO.ID:

OPINI - Pilgub di Jateng makin ketat. Dua paslon bersaing di detik-detik akhir. Pasangan Ganjar-Gus Yasin mengandalkan pertama, mesin partai. PDIP dikenal solid di Jateng. Terutama di wilayah selatan.

Kedua, mesin santri. Para alumni Sarang yang menyebar terutama di wilayah Pantura Jawa Tengah tak kalah semangatnya. Ketokohan K.H. Maemoen Zubair berhasil menggerakkan militansi para alumni pesantren Sarang untuk memenangkan pasangan Ganjar-Taj Yasin.

Sementara pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah lebih bertumpu pada pertama, jaringan NU-PKB. Kedua, mesin PKS. Di Jawa Tengah, mesin PKS tak terlalu kuat. Sementara Gerindra, lebih mengandalkan icon Prabowo Subianto. 

Ketokohan Sudirman Said tak terlalu kuat. Orang dekat mengenal Sudirman Said pekerja keras, bersih dan punya track record bagus. Orang menyebutnya Mr clean. Seorang menteri yang miskin, karena tak terlibat korupsi. Tapi kurang terkspos, dan publik tak mengenal kelebihan-kelebihan itu. Begitu juga dengan Ida Fauziyah. 

Ganjar lebih populer. Apalagi jika ia tersenyum. Renyah. Senyum yang memikat hati publik. Terutama komunitas emak-emak dan generasi milenial. Gesturnya lebih menawan. Ganjar lebih gaul dari pada Sudirman Said. Maklum, mantan mahasiswa pendaki gunung. Ditambah Taj Yasin yang menjadi magnet kalangan santri.

Soal mesin tim, pasangan Ganjar-Taj Yasin lebih kuat. Apakah ini akan menjamin kemenangan Ganjar-Taj Yasin? Belum. Sebab, faktor isu politik punya peran dan pengaruh yang tidak bisa diabaikan.

Di Jateng, ada tiga isu yang cukup kuat. Pertama, isu e-KTP. Meski Ganjar bukan tersangka, tapi info media tentang isu e-KTP cukup kuat. Kehadiran Tak Yasin berbasis pesantren dan putra Kiyai Kharismatik bisa menjadi penyeimbang isu ini. Sejauh mana mesin pesantren yang dimiliki Taj Yasin mampu meredam isu ini, akan berpengaruh terhadap pilihan suara. Dalam konteks ini, tak bisa mengandalkan mesin PDIP.

Kedua, isu pupuk. Sejumlah pihak menganggap pemberian kartu subsidi pupuk bagi petani menjadi kebijakan yang blunder buat Ganjar. Sebab, dengan kartu subsidi itu, petani merasa direpotkan dan sebagian petani kesulitan mendapatkan pupuk. Kabarnya, para petani mulai banyak yang berpaling dalam pilihan. Ini bukan soal baik tidaknya sebuah kebijakan. Tapi lebih pada kemampuan dalam komunikasi politik. Peran mesin partai, terutama PDIP dan PPP diuji disini.

Ketiga, faktor PDIP. Partai banteng ini sedang banyak disorot dan diberikan catatan oleh umat Islam, yang notabene menjadi pemilih terbesar di Jawa Tengah. Kampanye "tumbangkan banteng" sedang marak digalang oleh kelompok tertentu. Lagi-lagi, mesin santri terpaksa harus di depan. Narasi yang kemudian sering muncul: jangan lihat PDIP-nya, tapi lihatlah Gus Yasinnya. Wajah Taj Yasin betul-betul harus dipasang untuk jadi juru selamat.

Di Pilgub Jateng, nasib pasangan Ganjar-Taj Yasin lebih banyak bertumpu dan mengandalkan kekuatan mesin santri. Wajah Taj Yasinlah yang dijadikan bamper untuk menyelamatkan hantaman politik moral kepada Ganjar dan PDIP. Mampukah Taj Yasin dan mesin santri menjadi juru selamat?

Hasil Pilgub Jateng tidak hanya menjadi taruhan bagi PDIP, tapi juga pesantren Sarang. Bagi PDIP, Pilgub Jatim, Jabar, Sumut dan Sulsel rawan kalah. Setelah kalah di Banten dan juga Jakarta. Maka, Jawa Tengah menjadi harapan. Boleh jadi satu-satunya harapan di pulau Jawa. Bagi pesantren Sarang, kalah menang di Pilgub Jateng juga akan menjadi taruhan "muru'ah".

Jika menang, segala tuduhan dan pandangan minor terhadap pesantren dan ulama mudah direcovery. Kekuasaan akan menjadi sarana efektif untuk menyampaikan klarifikasi dan pembentukan opini publik. Akan mudah untuk membuat narasi; inilah gunanya ulama dan pesantren ke politik. Agar politik lurus dan negara menjadi baik. Sangat rasional. Masuk di akal. Dan akan banyak kelompok yang membela.

Tapi, jika kalah? Stigma negatif terhadap pesantren dan ulama kemungkinan bermunculan dan terpaksa harus ditelan menjadi hikmah dan pelajaran. Itu resiko dalam politik. Siap menang, tapi juga siap kalah.

Khusus untuk Pilgub Jawa Tengah, paling unpredictable dibanding di Jawa Barat dan Jawa Timur. Super ketat, karena derasnya isu yang menerpa Ganjar Pranowo. Jika menang, harus diakui, kehadiran wajah Taj Yasin jadi kunci keselamatan Ganjar dan PDIP. Tentu, tak mengabaikan mesin partai yang dimiliki PDIP dan PPP khususnya. Kalau kalah? Boleh jadi, kasus Ganjar lebih besar dari kemampuan mesin santri. Selain faktor kelihaian tim Sedirman Said dan NU-PKB Jawa Tengah yang bekerja dalam senyap.

Jakarta, 25/6/2018

Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Index Berita