Gibol Babinsa Menjelajah Jagad Persepakbolaan Nasional

INDONESIASATU.CO.ID:

Kediri. Babinsa Banjaran, Serda Abu Nur Arifin membuat terobosan baru menggaet generasi millenium yang berstatus “Football Lovers” dalam acara bergenre Gibol Babinsa. Acara ini bersifat hiburan sekaligus menjalin keakraban antara Babinsa dan Babinkamtibmas dengan para pemain Persik Kediri maupun Suporter Persik Kediri. sabtu (12/1/2019)

“Sepakbola itu tidak bisa dijabarkan sekali saja, sepakbola itu luas. Disitu ada manajemen, ada pemain, ada pelatih, ada pertandingan, ada suporter, ada lapangan. Lapangan kalau kita jabarkan lagi, lampu penerangan harus layak, kapasitas penonton, kondisi rumput. Itu contoh,” kata Serda Abu Nur Arifin.

Di Liga Inggris, kompetisi terbagi beberapa level, dari yang teratas Premier League, hingga dibawahnya, yaitu Championship League, One League dan Two League. Naik turun level klub, tergantung peringkat dalam satu musim kompetisi, dan hal itu ditentukan status Promosi atau Degradasi.

“Pembinaan usia muda, sudah pasti semua klub ada, dari usia paling muda semua ada. Klub-klub itu menggali bibit-bibit pemain yang berbakat. Dari usia 15 naik ke 18, dari 18 naik ke 21, sudah usia 21 bisa naik ke level senior, atau masih usia 18 naik level senior, juga tidak apa-apa,” jelas Serda Abu Nur Arifin.

Di level Asia, khususnya tim nasional, kualifikasi dilakukan bertahap, sebelum naik level dunia. Diasumsikan di tahun 2017, tim nasional harus lolos kualifikasi group terlebih dahulu, sebelum naik ke level kualifikasi zona Asia, yang digelar setahun kemudian atau tahun 2018. Bila tim nasional lolos kualifikasi zona Asia, selanjutnya setahun kemudian atau tahun 2019, mengikuti Piala Dunia, baik U-17 maupun U-20.

Berbeda dengan Sea Games, Asian Games atau Olimpiade, yang bermaterikan pemain usia 23 tahun. Sea Games dan Asian Games tanpa kualifikasi apapun, sedangkan Olimpiade, setahun sebelum Olimpiade digelar, tim nasional terlebih dahulu tampil di kualifikasi zona Asia. Diasumsikan Olimpiade 2016 di Brasil, otomatis tim nasional harus lolos kualifikasi zona Asia di tahun sebelumnya atau tahun 2015. 

“Pemain yang berbakat adalah pemain yang punya skill, punya fisik, punya mental. Mental ini ya mental bertanding. Perkara hasil, itu wajar, ada kalah ada menang. Mencari pemain yang berbakat itu tidak mudah, butuh kesabaran, butuh pengamatan, butuh kemampuan,” ujar Serda Abu Nur Arifin.

Kompetisi sepak bola, agenda yang tidak bisa dipisahkan untuk mencari pemain-pemain yang terbaik. Suatu misal, Liga Inggris, secara rutin digelar selama bulan Agustus hingga Mei tahun depan atau satu musim kompetisi.

Setiap klub yang mengikuti kompetisi, dipastikan dipantau pemain-pemainnya, dan bila sesuai dengan minat sang pelatih tim nasional, sudah pasti masuk dalam daftar seleksi tim nasional terlebih dahulu atau langsung terdaftar.

“Suporter ini semua kreatif, ada yang ini ada yang itu, kreatif pokoknya, dan suporter itu penting, mereka adalah pemain ke 12. Semangat pemain bisa tercipta dari suporter. Umum sudah, kalau main di kandang, karena ada suporter banyak, semangat bertandingnya beda. Beda kalau main tandang, yang banyak itu suporter lawan,” pungkas Serda Abu Nur Arifin.

Gibol Babinsa ini terdiri dari dua segmen, diawali segmen Cangkruan Gibol, yaitu dialog interaktif singkat tentang dunia persebakbolaan dan segmen nonton bareng pertandingan Liga Inggris, West Ham United versus Arsenal yang ditayangkan live di salah satu stasiun televisi di salah satu warkop (warung kopi) yang berlokasi di Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota.

Cangkruan bola dan nonton bareng ini diikuti Danramil Kota Kapten Arm Bangun Budi Adi, Babinkamtibmas Banjaran, Aipda Sony Nurdiansyah, Bati Komsos Koramil 01/Kota Serka Samsuri, serta pemain Persik Kediri Alfian Agung dan Juan Hapsara. (aang)

 

 

  • Whatsapp

Index Berita