Bejo Versus Bego di Dunia Politik Indonesia

INDONESIASATU.CO.ID:

POLITIK - Bermain di dunia politik tidak menuntut persyaratan khusus atau mungkin sama sekali tak ada syarat-syarat atau kualifikasi dan kompetensi yang diminta, Cuma perlu keinginan dan kemauan. Apakah Anda seoarang pengangguran atau Anda seorang pengusaha sukses, tiada perbedaan di dunia politik, semua sama semua punya hak, itulah demokrasi, “tidak menghargai isi kepala tapi lebih menghargai jumlah kepala.”

Untuk sukses di dunia politik juga tak ada kriteria khusus atau upaya spesial lainnya, yang penting Anda punya keberuntungan atau “Bejo” Anda pasti menduduki kursi parlemen sebagai wakil rakyat. Hanya dengan modal keberuntungan belaka Anda bisa jadi manusia terhormat di jaga raya nusantara ini yang dinamakan Indonesia.
Jika Anda “Bejo” bukan “Bego” Anda akan bisa kaya raya, walaupun tanpa modal karsa dan upaya yang terlalu keras, yang penting Anda sudah ditakdirkan untuk menjadi kaya oleh yang di atas maka Anda akan kaya, tak peduli usaha apa yang Anda geluti, mulai dari pengumpul barang butut sampai pedagang perhiasan emas, kalau Anda “Bejo” kun pa yakun maka jadilah, jadi orang kaya.

Sebagai seorang kaya yang “Bejo”, bisa jadi Anda seorang yang pintar atau “Bego” sekalipun Anda akan segera dihormati orang karena orang banyak berharap kemurahan hati Anda, mulai dari minta kerjaan sampai minta sedikit derma dari Anda, walaupun itu sedikit keterpaksaan atau walaupun Anda pelitnya minta ampun Anda tetap dihormati, minimal ditakuti. Dengan kekayaan yang dimiliki beransur-ansur Anda punya pengaruh dan selanjutnya pengaruh menimbulkan kekuasaan karena di Indonesia hampir semuanya bisa Anda beli, hampir semuanya, sebutkan saja, mulai dari preman pasar, sampai para penegak hukum pun bisa Anda beli dan nurut sama Anda, apa lagi rakyat jelata, itu merupakan perkara mudah.

Pengaruh, kekuasaan, dan ketakutan rakyat sama Anda akan menciptakan “Pamor” tersendiri yang berujung pada suatu “wibawa” walaupun sedikit terpaksa rakyat jelata akan pada nurut apapun yang Anda katakan, seolah-olah Anda tuan dan mungkin “Tuhan” mereka. Dari sini mulailah tumbuh bibit-bibit kekuasaan, bibit-bibit untuk jadi “Firaun” dalam diri Anda, Anda mulai berangan-angan untuk menjadi “Raja di Raja,” karena di zaman “edan” sekarang ini siapapun bisa jadi “Raja” yang penting punya pengaruh dan dana yang kuat untuk membeli “suara.”  

Saking begitu mudahnya, untuk menjadi seorang Presiden, Gubernur, Bupati atau Walikota, Anda hanya perlu memenangkan 12.5% lebih sedikit dari jumlah pemilih yang sah, karena dari fakta yang ada hampir 50% dari pemilih sah lebih memilih Golput atau tidak memilih, sehingga suara yang sahpun hampir hanya 50% saja. Jadi kalau Anda sudah memenang hati para pemilih lebih dari 21% saja dari jumlah pemilih yang sah, maka Anda bisa dipastikan telah memenangkan lebih dari 25% suara yang sah dari pemilih yang ikut pemilihan “Raja.” Kalau sekiranya yang ikut pemilihan “Raja” itu calonnya hanya ada 4 saja atau lebih, maka besar kemungkinan Andalah yang akan terpilih sebagai “Raja Baru,” yang siap berkuasa.

Sebegitu mudahnya untuk jadi “Raja” di zaman demokrasi langsung dewasa ini, Anda tak perlu cerdas, tak perlu sekolah tinggi, tak perlu banyak pergaulan, yang penting anda “Bejo” walaupun “Bego,” walaupun itu bodohnya gak ketulungan Anda akan menjadi “Pemimpin Masa Depan.”
“Masa Depan yang Suram,”….!!!!!!!! (Hendri)

  • Whatsapp

Berita Terpopuler

Index Berita